.

.
Everything is upside down

Jumat, 04 Desember 2015

"Pergi Tanpa Pesan"

Covered by Afgansyah Reza

Another great song from Indonesian band,
"Pergi Tanpa Pesan" by Sore

Lirik:
Jauh perjalanan
Mencari intan pujaan
Aduhai, dimana puan?
Mengapa pergi tanpa pamitan?

Lembah ku turuni
Bukit nan tinggi ku daki
Aduhai, tak kunjung jumpa
Mengapa hilang tak tentu rimba

Laut hempaskan ku padanya
Bintang tunjukkan arah
Oh, angin bisikkanlah malam ini

Hati cemas bimbang
Harapan timbul tenggelam
Aduhai, permata hati
Mungkinkah kelak berjumpa lagi?

Oh, angin bisikkanlah malam ini

Hati cemas bimbang
Harapan timbul tenggelam
Aduhai, permata hati
Mungkinkah kelak bersua lagi?

Kamis, 03 Desember 2015

Si Merah Hati, Almamater Muda Wijayaku


Ah, si merah hati ini lagi. Si merah hati yg selalu bersenang hati menemani di kala panas terik hujan mendung hari senin.Si merah hati yang tetap diam dan sabar mendengar keluh kesal "Ah panas!". Si merah hati yang berbesar hati meski akhirnya hanya dislempangkan di pundak maupun di lengan selepas upacara dibubarkan. Si merah hati yang bahkan mungkin tak jenuh menampung bau dan tetes tetes keringat. Yang mungkin nanti hanya dilemparkan ke dalam laci meja dan didiamkan selama pelajaran berlangsung. Atau mungkin bahkan dilupakan dan tertinggallah dia sendiri di laci semalaman. Dan baru berjumpa lagi esok paginya hanya untuk memastikan bahwa ia masih di dalam sana. Hingga akhirnya saat pulang dan dia tak terlupakan pun, hujan turun, dan si merah hati tetap bersenang hati melindungi kepala lalu rela tertusuk-tusuk rintik hujan. Basahlah ia. Tapi tak mengapa. Ia senang dapat berguna.

Ia juga setia mendampingi jatuh bangun menang kalah kompetisi bagi mereka yang sering mengikuti lomba diluar sekolah. Mungkin yang ini ia lebih senang lagi. Karena si merah hati ini akan lebih sering dipakai dan dicari-cari. Meski keringat mesti ia tampung, tangis mesti ia seka, kotoran mesti ia jilat, bahkan bantingan penuh kesal kekalahanpun mesti ia rasakan. Tak apa. Ketika datang sekali kemenangan, dan melihat betapa bangga ia dikenakan untuk maju ke depan atau ke atas panggung atau hanya sekedar berfoto, ia sangat senang. Senang sekali.

Dan sekarang. Si merah hati lusuh itu telah habis masanya. Ia tergantung lemah tak berdaya di lemari pakaian yg paling ujung. Dengan napas tersengal hanya mampu mengingat lagi memori-memori.
Hey, si merah hati almamater muda wijayaku tersayang, apa kabar kamu di lemari baju kamar di seberang kota sana?

Sabtu, 09 Februari 2013

Oh, Bidadari Firdaus

pernahkah kau merasa tak diinginkan?
menjadi satu yang terabaikan
dan kau hanyalah segumpal tisu bekas yang terbuang di pinggir jalan
tak ada yang menyadari
tak ada yang memperhatikan

pernahkah kau merasa tak rupawan?
tak sepasang mata-pun sudi memandang
dan kau hanyalah seonggok daging beku berlalat
tak ada yang menginginkan
hanya ingin untuk segera dibuang

mengertikah kau sekarang
ketika ku berkata "aku memang tak pantas"?
bukannya bertekuk lutut pada pesimisme
bukan pula sok realis menerima kepahitan

tapi lihatlah
betapa luar biasa indah makhluk di seberang sana itu
manis dengan segala komposisi wajah dan tubuhnya
cantik dengan segala kesucian dan kebesaran hatinya
anggun dengan segala tingkah laku dan tutur katanya
kuat dengan segala kepercayaan diri dalam keberaniannya

bak bidadari sempurna turun dari taman firdaus yang kehilangan sayapnya untuk kembali

dan aku?

Rabu, 06 Februari 2013

bernyanyi dalam sunyi berdansa dengan asa

bernyanyi dalam sunyi
berdansa dengan asa
ku tuju tempat tak terjangkau dari sini
larungkan sketsa dongeng tak terselesaikan

bernyanyi dalam sunyi
berdansa dengan asa
menggiring kepergian rasa tak terpahami
alam mengalunkan kesenduannya

bernyanyi dalam sunyi
berdansa dengan asa
kertas-kertas gambaran di belakang memburu
yang ku ingat itu hanyalah fatamorgana dalam ingatan

bernyanyi dalam sunyi
berdansa dengan asa
perlahan sesuatu menyesak dalam paru paru
rupanya udara tak lagi menarik baginya

bernyanyi dalam sunyi
berdansa dengan asa
seketika melodi mengetuk batin
seketika dentum membuka rasa

bernyanyi dalam sunyi
berdansa dengan asa
ku ingin terus bernyanyi
ku ingin terus berdansa
meski tak ku butuh diksi
tidak pula ku butuh nada

dengan butir butir yang masih disini
dengan butir butir yang telah tersedia
ku tetap bernyanyi dalam sunyi
ku tetap berdansa dengan asa

Rabu, 02 Januari 2013

Cinta

Cemburu memang bukanlah berarti cinta, tapi di dalam cinta ada sedikit kecemburuan. Rela tidak selalu cinta, tapi di dalam cinta pasti ada kerelaan dan keikhlasan. Tidak semua tegar merupakan cinta, tapi di dalam cinta selalu ada ketegaran hati. Mengalah juga bukan cinta, tapi di dalam cinta terkadang kita memang harus kalah. Dan benci bukanlah cinta, tapi di dalam cinta juga pasti tersempil kebencian.
Benci melihatnya hancur, benci melihatnya terluka, benci melihatnya menangis, benci melihatnya pergi.
Tapi bagaimana ketika seseorang yang dicintai itu tidak pergi justru membuatnya hancur, terluka, dan menangis? Manakah yang lebih kau benci? Benci ketika ia bahagia tapi ia tak ada lagi di dekatmu? Atau tetap bisa kau dekap erat terus sampai ia hancur? Atau bahkan kau akan membenci dirimu sendiri karenanya? Mana yang lebih akan kau benci?
Jika ku beri pertanyaan: bisakah kau tersenyum ketika dia bahagia tanpamu? Masih mungkin. Setidaknya masih ada satu pihak bahagia. Tapi jika pertanyaannya: bisakah kau tersenyum ketika dia di dekatmu bahkan bisa kau peluk, tapi dia tak benar-benar disampingmu? Pikirannya jauh melayang kesana kemari dan perlahan hilang terbawa angin. Tak ada satupun dari kalian yang bahagia. Apa yang bisa kau banggakan hanya dari raga tanpa hati dan kayalan yang entah tersesat dimana? Apa iya harus semua menanggung sakit? Setidaknya di pilihan pertama mupun pilihan kedua kau sama-sama sakit.
Ya, mungkin memang harus aku akui klise ini.
Cinta memang tak selalu bahagia, tapi cinta selalu ingin melihat orang yang benar-benar dicintainya bahagia.

Emmm... iya kan?