"ku pejamkan mata. yg terbayang... surga. berdiri diatas bukit hijau ditemani sinar mentari yg tidak terik; suara burung-burung *entah apa namanya* bernyanyi bergantian; suara aliran air yg sedikit deras di sungai sebelah kiriku; semerbak bau tanah, rumput liar, bunga liar yg ku pijak; dengan segala perlengkapan-perlengkapan pemandangan indah. indahnya ciptaan Tuhan. dan kau... kau menunggu dibawah sana. dibawah bukit ini. dan aku yakin yg kau tunggu hanya satu, satu dan satu satunya, aku. kau duduk bersila di rumput-rumput hijau nan basah karena embun, membelakangi bukit dimana aku berdiri. aku tersenyum menemukan punggung itu di hadapanku. ku ambil satu langkah, dua langkah, tiga dan seterusnya hingga akhirnya aku berlari. pohon-pohon di setiap samping kanan kiriku terus menggerakkan dedaunannya seperti menyemangatiku dan berkata "ayo temui dia". dan seketika keraguanku hilang atas kenangan pahit yg dulu pernah aku lalui denganmu. inilah kamu. gak akan pergi lagi. dan gak akan meninggalkanku lagi. dan gak akan pernah kubiarkan pergi lagi. dan pasti gak akan pernah kurelakan untuk pergi lagi. satu langkah lagi. dan... kupeluk penggung yg sangat kurindukan itu. kita terjatuh bersama. lalu terdengarlah gelak tawa dua sejoli yg dimabuk cinta. kupandang kedua matamu itu, kau pun melakukan hal yg sama. kita berebah beralaskan rumput. aku tertidur di lenganmu, dan kau mengecup keningku. haaaah, betapa indah hidup disini. bahagia. bahagia saat mencintaimu juga dicintaimu. hidup tak akan bisa lebih sempurna dari ini. aku sangat sangat bersyukur takdir membuatku jatuh cinta padamu.
dan kini aku terbangun..."