Cemburu memang bukanlah berarti cinta, tapi di dalam cinta ada sedikit kecemburuan. Rela tidak selalu cinta, tapi di dalam cinta pasti ada kerelaan dan keikhlasan. Tidak semua tegar merupakan cinta, tapi di dalam cinta selalu ada ketegaran hati. Mengalah juga bukan cinta, tapi di dalam cinta terkadang kita memang harus kalah. Dan benci bukanlah cinta, tapi di dalam cinta juga pasti tersempil kebencian.
Benci melihatnya hancur, benci melihatnya terluka, benci melihatnya menangis, benci melihatnya pergi.
Tapi bagaimana ketika seseorang yang dicintai itu tidak pergi justru membuatnya hancur, terluka, dan menangis? Manakah yang lebih kau benci? Benci ketika ia bahagia tapi ia tak ada lagi di dekatmu? Atau tetap bisa kau dekap erat terus sampai ia hancur? Atau bahkan kau akan membenci dirimu sendiri karenanya? Mana yang lebih akan kau benci?
Jika ku beri pertanyaan: bisakah kau tersenyum ketika dia bahagia tanpamu? Masih mungkin. Setidaknya masih ada satu pihak bahagia. Tapi jika pertanyaannya: bisakah kau tersenyum ketika dia di dekatmu bahkan bisa kau peluk, tapi dia tak benar-benar disampingmu? Pikirannya jauh melayang kesana kemari dan perlahan hilang terbawa angin. Tak ada satupun dari kalian yang bahagia. Apa yang bisa kau banggakan hanya dari raga tanpa hati dan kayalan yang entah tersesat dimana? Apa iya harus semua menanggung sakit? Setidaknya di pilihan pertama mupun pilihan kedua kau sama-sama sakit.
Ya, mungkin memang harus aku akui klise ini.
Cinta memang tak selalu bahagia, tapi cinta selalu ingin melihat orang yang benar-benar dicintainya bahagia.
Emmm... iya kan?