.

.
Everything is upside down

Jumat, 13 Juli 2012

catatan yang tertunda

tadi pagi, entah jam berapa tepatnya. aku menemukan buntalan kertas didalam tas yg biasa ku pakai ke sekolah lamaku. di kantong kecil samping yg biasa kujadikan tempat bungkus permen. kubuka kertas putih itu. selembar sobekan buku yg sudah lecek. tanpa tercantum hari, tanggal, bulan, tahun. dan ini yg tertulis:

"ku pejamkan mata. yg terbayang... surga. berdiri diatas bukit hijau ditemani sinar mentari yg tidak terik; suara burung-burung *entah apa namanya* bernyanyi bergantian; suara aliran air yg sedikit deras di sungai sebelah kiriku; semerbak bau tanah, rumput liar, bunga liar yg ku pijak; dengan segala perlengkapan-perlengkapan pemandangan indah. indahnya ciptaan Tuhan. dan kau... kau menunggu dibawah sana. dibawah bukit ini. dan aku yakin yg kau tunggu hanya satu, satu dan satu satunya, aku. kau duduk bersila di rumput-rumput hijau nan basah karena embun, membelakangi bukit dimana aku berdiri. aku tersenyum menemukan punggung itu di hadapanku. ku ambil satu langkah, dua langkah, tiga dan seterusnya hingga akhirnya aku berlari. pohon-pohon di setiap samping kanan kiriku terus menggerakkan dedaunannya seperti menyemangatiku dan berkata "ayo temui dia". dan seketika keraguanku hilang atas kenangan pahit yg dulu pernah aku lalui denganmu. inilah kamu. gak akan pergi lagi. dan gak akan meninggalkanku lagi. dan gak akan pernah kubiarkan pergi lagi. dan pasti gak akan pernah kurelakan untuk pergi lagi. satu langkah lagi. dan... kupeluk penggung yg sangat kurindukan itu. kita terjatuh bersama. lalu terdengarlah gelak tawa dua sejoli yg dimabuk cinta. kupandang kedua matamu itu, kau pun melakukan hal yg sama. kita berebah beralaskan rumput. aku tertidur di lenganmu, dan kau mengecup keningku. haaaah, betapa indah hidup disini. bahagia. bahagia saat mencintaimu juga dicintaimu. hidup tak akan bisa lebih sempurna dari ini. aku sangat sangat bersyukur takdir membuatku jatuh cinta padamu.
dan kini aku terbangun..."

Selasa, 05 Juni 2012

janji yg melayang sia-sia

(hanya kutipan. murni bukan buatanku ;))

pada suatu masa, pada sebuah musim yg berangin, seekor larva mendapati dirinya telah menjadi seekor kupu-kupu, disibaknya kelambu serat-serat kepompongnya, hendak dikepakkannya sayap untuk menerbangkan diri. tak disangka pada saat yg sama, terpaan angin mendadak menghempaskannya. terjatuhlah kepompong itu berikut sebatang dahan menimpanya, meretakkan sayap kupu-kupunya yg bahkan belum sempat mengembang. patahlah kedua belah sayap itu, rangka tulangnya yg ringkih saling terlepaskan. lembar sayap aneka warna serupa tenunan, menyerpih bertebaran. beberapa diantaranya melayang berupa bubuk halus serupa partikel debu. debu yg memendarkan dispresi warna cahaya. larva yg malang. semestinya dia telah menjelma sebagai kupu-kupu, tetapi tanpa sayap bisakah dikatakan dia sebagai kupu-kupu? adakah kupu-kupu yg tak bersayap? dia kini bukan pula seekor ulat, yg memiliki keahlian menelusuri ranting. jadi sebagai apakah dia kini? mungkinkah dia seekor kupu-kupu tak bersayap?
lalu diingatnya janjinya pada suatu ketika. saat dirinya sebagai ulat, dia memberikan sebuah janji pada serumpun bunga.
"izinkanlah ku makan daun-daunmu, untuk bekal bertapaku pada proses metamorfosis" kata ulat itu memohon belas kasihan.
"jangan. runcing gigi-gigimu akan menyakitiku" tolak rumpun bunga. "lagi pula, kalau aku tak berdaun, dengan apa akan kutadah cahaya matahari untuk proses sintesa pertumbuhanku? bagaimana pula batangku pohonku akan bernapas tanpa daun-daunku?"
"tapi, tanpa daun-daunmu, tak akan aku bisa menjelma kupu-kupu." lagi, ulat memohon dengan sangat.
rumpun bunga menggeleng-geleng, hendak dihempaskannya ulat yg mencengkram batang dahannya.
"jangan mengusirku" kembali ulat memohon. "inilah janjiku, saat menjelma sebagai kupu-kupu nanti, akan kulakukan proses penyerbukan untukmu. maka putik-putik tak akan melayu gugur sia-sia, melainkan menjadi buah-buah yg berguna."
"sungguhkah janjimu itu?"
"ya, peganglah janji yg sungguh ini."
maka meski dengan menangis, daun-daun itu merelakan helai-helai dirinya dikunyah runcing gigi-gigi ulat  itu. demi berbuah putik-putik bunga yg dimilikinya.
begitulah janji itu dibuat. sesuatu telah dikorbankan demi memperoleh sesuatu yg lain. helai dedaunan dengan segala luka yg pedih merelakan dirinya tercabik terkunyah gigi ulat. sehingga kenyanglah ulat itu, memiliki bekal yg cukup untuk menjalani tidur panjangnya menunggu sepasang sayap tertenun baginya.
sepasang sayap yg akan memnerbangkannya dari satu bunga pada kelopak yg lain demi memenuhi janjinya menunaikan tugas sebagai perantara penyerbukan bagi tumbuhan yg tak mampu melakukan penyerbukannya sendiri. dia telah mengikat janji pada ranting-ranting tumbuhan dimana dia menjadi.
namun apakah dirinya kini? dengan cara apaakan ditunaikannya janji melakukan penyerbukan itu? bahkan kini tak lagi dimilikinya kaki, apalagi sayap untuk menerbangkan dirinya sendiri. maka janji itu melayang sia-sia, serupa gugur daun yg kemudian meranggas menjadi sampah.

dikutip dari "memilikimu"
a novel by Sanie B. Kuncoro