.

.
Everything is upside down

Kamis, 03 Desember 2015

Si Merah Hati, Almamater Muda Wijayaku


Ah, si merah hati ini lagi. Si merah hati yg selalu bersenang hati menemani di kala panas terik hujan mendung hari senin.Si merah hati yang tetap diam dan sabar mendengar keluh kesal "Ah panas!". Si merah hati yang berbesar hati meski akhirnya hanya dislempangkan di pundak maupun di lengan selepas upacara dibubarkan. Si merah hati yang bahkan mungkin tak jenuh menampung bau dan tetes tetes keringat. Yang mungkin nanti hanya dilemparkan ke dalam laci meja dan didiamkan selama pelajaran berlangsung. Atau mungkin bahkan dilupakan dan tertinggallah dia sendiri di laci semalaman. Dan baru berjumpa lagi esok paginya hanya untuk memastikan bahwa ia masih di dalam sana. Hingga akhirnya saat pulang dan dia tak terlupakan pun, hujan turun, dan si merah hati tetap bersenang hati melindungi kepala lalu rela tertusuk-tusuk rintik hujan. Basahlah ia. Tapi tak mengapa. Ia senang dapat berguna.

Ia juga setia mendampingi jatuh bangun menang kalah kompetisi bagi mereka yang sering mengikuti lomba diluar sekolah. Mungkin yang ini ia lebih senang lagi. Karena si merah hati ini akan lebih sering dipakai dan dicari-cari. Meski keringat mesti ia tampung, tangis mesti ia seka, kotoran mesti ia jilat, bahkan bantingan penuh kesal kekalahanpun mesti ia rasakan. Tak apa. Ketika datang sekali kemenangan, dan melihat betapa bangga ia dikenakan untuk maju ke depan atau ke atas panggung atau hanya sekedar berfoto, ia sangat senang. Senang sekali.

Dan sekarang. Si merah hati lusuh itu telah habis masanya. Ia tergantung lemah tak berdaya di lemari pakaian yg paling ujung. Dengan napas tersengal hanya mampu mengingat lagi memori-memori.
Hey, si merah hati almamater muda wijayaku tersayang, apa kabar kamu di lemari baju kamar di seberang kota sana?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar