Ah, si merah hati ini lagi. Si merah hati yg selalu
bersenang hati menemani di kala panas terik hujan mendung hari senin.Si merah
hati yang tetap diam dan sabar mendengar keluh kesal "Ah panas!". Si
merah hati yang berbesar hati meski akhirnya hanya dislempangkan di pundak
maupun di lengan selepas upacara dibubarkan. Si merah hati yang bahkan mungkin
tak jenuh menampung bau dan tetes tetes keringat. Yang mungkin nanti hanya
dilemparkan ke dalam laci meja dan didiamkan selama pelajaran berlangsung. Atau mungkin bahkan dilupakan dan tertinggallah
dia sendiri di laci semalaman. Dan baru berjumpa lagi esok paginya hanya untuk memastikan bahwa ia masih
di dalam sana. Hingga akhirnya saat pulang dan dia tak terlupakan pun, hujan turun, dan si
merah hati tetap bersenang hati melindungi kepala lalu rela tertusuk-tusuk rintik hujan.
Basahlah ia. Tapi tak mengapa. Ia senang dapat berguna.
Ia juga setia mendampingi jatuh bangun menang kalah
kompetisi bagi mereka yang sering mengikuti lomba diluar sekolah. Mungkin yang
ini ia lebih senang lagi. Karena si merah hati ini akan lebih sering dipakai
dan dicari-cari. Meski keringat mesti ia tampung, tangis mesti ia seka, kotoran
mesti ia jilat, bahkan bantingan penuh kesal kekalahanpun mesti ia rasakan. Tak
apa. Ketika datang sekali kemenangan, dan melihat betapa bangga ia dikenakan
untuk maju ke depan atau ke atas panggung atau hanya sekedar berfoto, ia sangat
senang. Senang sekali.
Dan sekarang. Si merah hati lusuh itu telah habis masanya.
Ia tergantung lemah tak berdaya di lemari pakaian yg paling ujung. Dengan napas
tersengal hanya mampu mengingat lagi memori-memori.
Hey, si merah hati almamater muda wijayaku tersayang,
apa kabar kamu di lemari baju kamar di seberang kota sana?