Anggap Saja Ini Blog
Hanya sedikit percikan air dari dalam mangkuk
.
Everything is upside down
Minggu, 10 Februari 2019
Jumat, 04 Desember 2015
"Pergi Tanpa Pesan"
Covered by Afgansyah Reza
Another great song from Indonesian band,
"Pergi Tanpa Pesan" by Sore
Lirik:
Jauh perjalanan
Mencari intan pujaan
Aduhai, dimana puan?
Mengapa pergi tanpa pamitan?
Lembah ku turuni
Bukit nan tinggi ku daki
Aduhai, tak kunjung jumpa
Mengapa hilang tak tentu rimba
Laut hempaskan ku padanya
Bintang tunjukkan arah
Oh, angin bisikkanlah malam ini
Hati cemas bimbang
Harapan timbul tenggelam
Aduhai, permata hati
Mungkinkah kelak berjumpa lagi?
Oh, angin bisikkanlah malam ini
Hati cemas bimbang
Harapan timbul tenggelam
Aduhai, permata hati
Mungkinkah kelak bersua lagi?
Kamis, 03 Desember 2015
Si Merah Hati, Almamater Muda Wijayaku
Ah, si merah hati ini lagi. Si merah hati yg selalu
bersenang hati menemani di kala panas terik hujan mendung hari senin.Si merah
hati yang tetap diam dan sabar mendengar keluh kesal "Ah panas!". Si
merah hati yang berbesar hati meski akhirnya hanya dislempangkan di pundak
maupun di lengan selepas upacara dibubarkan. Si merah hati yang bahkan mungkin
tak jenuh menampung bau dan tetes tetes keringat. Yang mungkin nanti hanya
dilemparkan ke dalam laci meja dan didiamkan selama pelajaran berlangsung. Atau mungkin bahkan dilupakan dan tertinggallah
dia sendiri di laci semalaman. Dan baru berjumpa lagi esok paginya hanya untuk memastikan bahwa ia masih
di dalam sana. Hingga akhirnya saat pulang dan dia tak terlupakan pun, hujan turun, dan si
merah hati tetap bersenang hati melindungi kepala lalu rela tertusuk-tusuk rintik hujan.
Basahlah ia. Tapi tak mengapa. Ia senang dapat berguna.
Ia juga setia mendampingi jatuh bangun menang kalah
kompetisi bagi mereka yang sering mengikuti lomba diluar sekolah. Mungkin yang
ini ia lebih senang lagi. Karena si merah hati ini akan lebih sering dipakai
dan dicari-cari. Meski keringat mesti ia tampung, tangis mesti ia seka, kotoran
mesti ia jilat, bahkan bantingan penuh kesal kekalahanpun mesti ia rasakan. Tak
apa. Ketika datang sekali kemenangan, dan melihat betapa bangga ia dikenakan
untuk maju ke depan atau ke atas panggung atau hanya sekedar berfoto, ia sangat
senang. Senang sekali.
Dan sekarang. Si merah hati lusuh itu telah habis masanya.
Ia tergantung lemah tak berdaya di lemari pakaian yg paling ujung. Dengan napas
tersengal hanya mampu mengingat lagi memori-memori.
Hey, si merah hati almamater muda wijayaku tersayang,
apa kabar kamu di lemari baju kamar di seberang kota sana?
Langganan:
Komentar (Atom)
















































