pada suatu masa, pada sebuah musim yg berangin, seekor larva mendapati dirinya telah menjadi seekor kupu-kupu, disibaknya kelambu serat-serat kepompongnya, hendak dikepakkannya sayap untuk menerbangkan diri. tak disangka pada saat yg sama, terpaan angin mendadak menghempaskannya. terjatuhlah kepompong itu berikut sebatang dahan menimpanya, meretakkan sayap kupu-kupunya yg bahkan belum sempat mengembang. patahlah kedua belah sayap itu, rangka tulangnya yg ringkih saling terlepaskan. lembar sayap aneka warna serupa tenunan, menyerpih bertebaran. beberapa diantaranya melayang berupa bubuk halus serupa partikel debu. debu yg memendarkan dispresi warna cahaya. larva yg malang. semestinya dia telah menjelma sebagai kupu-kupu, tetapi tanpa sayap bisakah dikatakan dia sebagai kupu-kupu? adakah kupu-kupu yg tak bersayap? dia kini bukan pula seekor ulat, yg memiliki keahlian menelusuri ranting. jadi sebagai apakah dia kini? mungkinkah dia seekor kupu-kupu tak bersayap?
lalu diingatnya janjinya pada suatu ketika. saat dirinya sebagai ulat, dia memberikan sebuah janji pada serumpun bunga.
"izinkanlah ku makan daun-daunmu, untuk bekal bertapaku pada proses metamorfosis" kata ulat itu memohon belas kasihan.
"jangan. runcing gigi-gigimu akan menyakitiku" tolak rumpun bunga. "lagi pula, kalau aku tak berdaun, dengan apa akan kutadah cahaya matahari untuk proses sintesa pertumbuhanku? bagaimana pula batangku pohonku akan bernapas tanpa daun-daunku?"
"tapi, tanpa daun-daunmu, tak akan aku bisa menjelma kupu-kupu." lagi, ulat memohon dengan sangat.
rumpun bunga menggeleng-geleng, hendak dihempaskannya ulat yg mencengkram batang dahannya.
"jangan mengusirku" kembali ulat memohon. "inilah janjiku, saat menjelma sebagai kupu-kupu nanti, akan kulakukan proses penyerbukan untukmu. maka putik-putik tak akan melayu gugur sia-sia, melainkan menjadi buah-buah yg berguna."
"sungguhkah janjimu itu?"
"ya, peganglah janji yg sungguh ini."
maka meski dengan menangis, daun-daun itu merelakan helai-helai dirinya dikunyah runcing gigi-gigi ulat itu. demi berbuah putik-putik bunga yg dimilikinya.
begitulah janji itu dibuat. sesuatu telah dikorbankan demi memperoleh sesuatu yg lain. helai dedaunan dengan segala luka yg pedih merelakan dirinya tercabik terkunyah gigi ulat. sehingga kenyanglah ulat itu, memiliki bekal yg cukup untuk menjalani tidur panjangnya menunggu sepasang sayap tertenun baginya.
sepasang sayap yg akan memnerbangkannya dari satu bunga pada kelopak yg lain demi memenuhi janjinya menunaikan tugas sebagai perantara penyerbukan bagi tumbuhan yg tak mampu melakukan penyerbukannya sendiri. dia telah mengikat janji pada ranting-ranting tumbuhan dimana dia menjadi.
namun apakah dirinya kini? dengan cara apaakan ditunaikannya janji melakukan penyerbukan itu? bahkan kini tak lagi dimilikinya kaki, apalagi sayap untuk menerbangkan dirinya sendiri. maka janji itu melayang sia-sia, serupa gugur daun yg kemudian meranggas menjadi sampah.
dikutip dari "memilikimu"
a novel by Sanie B. Kuncoro
Tidak ada komentar:
Posting Komentar